Senin, 14 Maret 2011

tak selamaya yang putih itu lebih bagus....

Produk bioteknologi golden rice ditargetkan sudah bisa dikomersialkan di Indonesia pada 2013 mendatang. Selain golden rice, juga akan dikomersialkan beberapa komoditas pangan utama yakni jagung tahan kering (2012) dan padi Bt (2015).

”Kami menargetkan pada 2013-2014 sudah dapat mengkomersialisasikan produk bioteknologi berupa golden rice di Indonesia,” kata Global Coordinator International Service for the Acquisition of Agri-Biotech Applications (ISAAA) Randy Hauntea di acara Seminar Perspektif Global Tanaman Biotek/Rekayasa Genetika:2010 di Kantor Kementerian Pertanian, Senin (14/3).


Menurut Randy, sebelum di Indonesia, golden rice akan dikembangkan di Filipina (2012) dan akan mulai diperluas penggunaannya pada 2013 bersamaan dengan pengembangan di negara lain seperti Banglandes, Vietnam dan Indonesia.

Golden rice adalah kultivar atau varietas padi transgenik hasil rekayasa genetika yang berasnya mengandung beta-karotena (pro vitamin A). Kandungan beta-karotena ini menyebabkan warna berasnya tampak kuning-jingga sehingga kultivarnya dinamakan golden rice (beras emas).

Pada tipe liar (normal), endosperma padi tidak menghasilkan beta-karotena dan akan berwarna putih hingga putih kusam. Di dalam tubuh manusia, beta-karotena akan diubah menjadi vitamin A.

"Dengan mengkonsumsi beras ini, maka kebutuhan akan daging, sayur-sayuran, dan buah-buahan bisa dikurangi. Apalagi bahan makanan yang mengandung vitamin A ini biasanya harganya sangat mahal,” kata Randy.

Hanya saja, bahan pangan yang dihasilkan melalui teknologi rekayasa genetika ini masih menuai pro dan kontra. Demikian pula padi emas ini belum sepenuhnya diterima masyarakat dunia. Sebagian masyarakat tidak menyetujui budidaya padi emas karena adanya kekhawatiran akan terjadinya perubahan lingkungan atau ekosistem. Mereka takut padi emas yang ditanam dapat menularkan sifat mutasinya ke tanaman alami lain.

Hal ini mungkin terjadi bila padi emas ditanam bersama padi jenis lain dalam satu lahan yang berdekatan sehingga polen (benang sari) padi emas dapat membuahi padi lain. Hal lain yang ditakutkan adalah apabila sifat yang diciptakan oleh ilmuwan ternyata bisa berubah dan melenceng jauh dari yang diharapkan. Masyarakat juga takut mengkonsumsi padi emas karena takut akan membahayakan kesehatan.

Menyikapi soal ini, pendiri dan Ketua Dewan ISAAA Clive James mengatakan bahwa kekhawatiran ini tak perlu diperdebatkan lagi. Karena terbukti sudah banyak negara yang mengadopsi teknologi rekayasa genetika. ”Apalagi di Indonesia sudah terbentuk Komisi Keamanan Hayati (KKH). Komisi inilah yang nantinya akan menilai apakah suatu teknologi tanaman diperbolehkan dibudidayakan di Indonesia atau tidak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

anda pesan kami antar... selesaikan proses belanja anda setelah dapat sms dari kami